Kereta.
Dulu gw takut banget kalo harus ke terminal, stasiun, atau naek kereta. Tapi semenjak kuliah, gw mau tidak mau harus membiasakan diri naek kereta karena kampus gw di Depok. Awalnya takut banget, ngeliat orang-orang yang aneh (menurut gw) belum lagi yang serem-serem. Tapi lambat laun, gw mulai merubah pola pikir gw. Gw ngerasa di fasilitas umum itu lah gw bisa belajar banyak arti kehidupan.
Pertama, mba-mba penjual tissue..
udah setahun yang lalu gw liat dia selalu mondar mandir di peron stasiun untuk menjual barang dagangannya dari pagi, hingga sore. Awalnya gw cuma berfikir, "kasihan dia harus berjualan tissue setiap hari", tapi semakin sering gw liat dia, semakin gw ngerasa perjuangannya dia berat banget buat hidup. Dia perempuan, tanpa rasa lelah dia berjalan dari ujung ke ujung, dengan plastik besarnya yg penuh dengan tissue, dan ketidak pastian akan habis atau tidak barang dagangannya setiap hari. Berapa sih keuntungan dia berjualan tissue? Ga sebanding banget dengan pengorbanannya.
Nenek-nenek tua renta yang naik kereta ekonomi..
oke mungkin dia gak punya uang untuk naik kereta ac, tapi siapa yang bisa menjamin keselamatan dia di kereta. Belum lagi orang-orang yang biasa di kereta ekonomi adalah orang-orang egois yang kalaupun dia melihat nenek tua berdiri dan tidak mendpatkan tempat duduk, mereka akan masa bodoh. Entah apa yang ada di pikiran mereka. KEmana anak nenek/kakek tua itu? Membiarkan orang tua mereka seperti itu tanpa mendampinginya.
Mas-mas penjual jepit rambut..
Nyiris banget kalo liat, yang ada di kepala gw adalah, "Dia punya keluarga ga yah? Punya anak ga yah? Apa penghasilannya cukup untuk membiayai sekolah anaknya?".
Dari cerita-cerita tadi, gw merasa bersyukur banget atas apa yang udah gw punya selama ini. Gw gak perlu bersusah payah untuk hidup, untuk bekerja karena meneruskan hidup bukan hidup untuk bekerja, semua fasilitas dari orang tua yang ada, hidup berkecukupan, dan sekolah pun orang tua gw masih sanggup membiayai. Kehidupan gw sangat berkecukpan banget dari orang-orang yang sering gw temuin di stasiun.
Tapi, tuhan tidak memberikan segala seusatu dengan sempurna. Beberapa kali gw naik kereta malam ke depok, dipenuhi orang-orang yang pulang kerja, orang-orang yang berwajah letih dan tidak sabar untuk sampai dirumah, istirahat dan bertemu keluarganya.
Sosok kebapak-an sering banget gw jumpai. Sosok bijaksana, kecapean setelah kerja, dan naik kereta berdesakan. Itu makanan mereka sehari-hari. Andai aja gw punya bapak yang memiliki sosok kebapak-an yang dapat di jadikan panutan oleh anaknya.
Gw ga butuh bokap yang kaya, punya mobil, gw butuh sosok ke bapak-an yang bisa bimbing gw dan bisa gw jadiin idola dalam hidup gw. Gw sangat menginginkan itu, sangat amat menginginkan itu. Gw selalu iri ngeliat bapak sama anaknya memiliki hubungan yang harmonis. Gw iri sama bapak yang selalu berusaha menjaga anaknya, selalu mencontohkan kepada anaknya yang seharusnya dilakukan dan tidak.
Tadi di kereta, gw menemukan sosok itu. Sosok yang sangat gw impikan untuk menjadi bokap gw. Sosok laki-laki bertanggung jawab, pencari nafkah utama, di cintai oleh keluarganya, dan di jadikan panutan oleh anak-anaknyaGw cuma bisa nyiris dalam hati dan hampir menangis karena membayangkan jika bokap gw seperti itu. Ya Allah, kabulkan doa hambamu ini. Amien..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar